Cerita Tentang Anak Yang Susah Diatur

Posted by ReTRo on Sunday, October 12, 2008

Membaca komentar dari Mr Sok Bener Gitu Loo tentang cara kita memperlakukan anak, membuat saya teringat akan pengalaman saya dalam membesarkan Steven, anak pertama saya. Sebenarnya selama proses kehamilan saya jalani dengan sangat mudah, saya tidak pernah muntah, jarang banget merasa mual. Waktu itu saya masih bekerja dan selama hamil saya tidak pernah membolos. Di tempat kerja dulu itu ada aturan masuk pada hari Minggu sebulan sekali, meskipun hari Minggu saya masuk, saya tidak pernah bingung mengambil tukar hari libur. Kondisi saya saat kehamilan cukup sehat, hanya sering mengantuk dan lapar.

Sekitar 2 minggu lebih sebelum perkiraan waktu melahirkan, saya mengambil cuti, orang-orang bilang kenapa enggak nunggu agak dekat aja waktunya, di sini khan cuti hamil cuman 1,5 bulan. Tapi suami saya tetap bersikeras saya mengambil cuti, kalau sampai ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab katanya.

Ternyata benar juga, saya cuma sempat menikmati masa cuti sebelum melahirkan selama beberapa hari, tapi sempat merawat suami yang kumat radang tenggorokannya. Nah karena suami saya radang tenggorokan, dia minta dibuatin misua. Berhubung di rumah hanya tinggal berdua saja saat itu, saya pikir sudah sekalian aja enggak usah masak nasi. Saya ikut makan misua, tapi ternyata aduh cepet banget sudah ngerasa laper lagi. Hari sudah malam, saya yang sedang hamil tua dan merasa kelaparan mencari-cari makanan, buka kulkas ada jeruk, ya sudah makan jeruk aja deh. Eh malamnya, enggak tahu kenapa calon bayi di perut saya berontak, gerakannya liar banget. Tapi malam itu saya masih bisa tidur.

Pagi hari saat bangun tidur, tahu-tahu air ketuban saya pecah, segera saya telpon dokter dan saya disuruh masuk rumah sakit. Ternyata sampai jam 12 siang tidak ada kontraksi, karena itu saya diinduksi. Pertamanya sih sakitnya masih bisa ditahan, tapi tambah lama tambah sakit, dan karena air ketuban sudah pecah saya tidak boleh beranjak dari tempat tidur. Saat saya sudah enggak kuat menahan sakit, untunglah akhirnya bayi saya keluar, lebih cepat 17 hari dari perkiraan.

Nah karena air ketuban sudah pecah duluan, bayi saya disuntik antibiotik, kemudian karena kuning dia harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Saat awal setelah pulang rumah masih enggak apa-apa, tapi di minggu ketiga, tahu-tahu dia menangis menjerit-jerit, tangisannya melengking, sambil kakinya ditarik / diluruskan, perutnya membesar karena kembung. Tangisan tersebut susah sekali ditenangkan. Dia bisa menangis menjerit-jerit sampai lama banget sampai akhirnya tidur karena capek. Ketika diperiksa ke dokter, ternyata itu namanya kolik. Sabar aja nanti umur 3 bulan sembuh sendiri kok. Waduh berarti kami harus menunggu 2 bulan lebih sampai sakit kolik ini sembuh sendiri.

Kalau kita mengalami masa bahagia jangankan 2 bulan, mau bertahun-tahun juga enggak masalah. Tapi kalau menghadapi masalah kebalikannya deh 2 hari aja sudah menderita, apalagi 2 bulan. Ya begitu deh Steven, anak pertama saya ini rewel banget, selama 2 bulan kami tidak bisa tidur nyenyak. Untuk menenangkan tangisannya dibutuhkan waktu setengah jam lebih, tetangga sampai heran kenapa bayi saya selalu menangis menjerit-jerit di tengah malam. Kalaupun akhirnya dia tertidur, jangan senang dulu. Begitu diletakkan di ranjang, belum 5 menit, dia kembali akan menangis menjerit-jerit, tangisan melengking yang membuat orang tua stress. Akhirnya terpaksa saya, seringkali dibantu oleh mama, (nenek Steven) setelah selesai menidurkan Steven, tidak menurunkannya di ranjang, tapi kami tidur dengan posisi duduk sambil tetap menggendongnya.

Masa cuti saya habis, saya ambil semua jatah tukar libur hari Minggu saya, akhirnya habis juga dan saya harus masuk kerja lagi. Karena saat itu Steven masih satu bulan lebih sakit koliknya masih jauh dari sembuh. Bertolak belakang dengan keadaan saat saya hamil, masa setelah kelahiran Steven ini justru membuat saya stress. Kalau dulu saya dipuji karena rajin, jarang sekali tidak masuk, justru setelah kelahiran Steven saya sering sekali izin, gimana kuat kalau seharian kerja, pulang kerja setiap malam tidak dapat tidur nyenyak, harus mengendong bayi, menenangkannya selama berjam-jam, sampai hampir enggak tidur. Pernah sampai di tempat kerja untuk jalan pun rasanya enggak kuat saking ngantuknya.

Sesampai di rumah, mama yang menjaga Steven juga ikut stress, mama bilang kalau njaga anak yang 'normal' sih enggak masalah, tapi ini serba salah banget, terus terang mama enggak sanggup, mending saya berhenti kerja aja. Saya menghadapi dilema, di satu sisi pingin tetap bisa berkarir, tapi bingung juga mikirin nasib Steven. Akhirnya saya mengajukan surat pengunduran diri, perusahaan berusaha membujuk agar saya mengambil cuti dulu sampai anak saya sehat. Tapi saya bingung juga soalnya beberapa bulan setelah itu, gantian mama saya harus ke tempat kakak saya yang akan melahirkan juga, nah saat itu siapa yang sanggup menjaga Steven?

Setelah menimbang-nimbang perusahaan mengizinkan saya keluar tapi peraturan perusahaan harus tetap dipenuhi, saya harus memberi waktu perusahaan 1 bulan untuk mencari ganti. Ya sudah saya tetap bekerja tapi absensi saya enggak karuan, seringkali saya terpaksa izin karena tidak kuat, habis mengantar Steven ke dokter karena rewelnya enggak ketulungan.

Akhirnya saya berhenti kerja sungguhan. Seminggu sebelum Steven genap 3 bulan, sakit koliknya sembuh. Kami mulai bernafas lega, bisa mulai tidur normal lagi. Tapi tidak berhenti sampai di sana, salah satu penyebab kolik tersebut ternyata karena Steven alergi susu sapi. Dia sering diare, kulitnya merah-merah, bisulan, kepalanya penuh kerak, pokoknya banyak banget problemnya. Sampai pernah waktu test darah kami dibuat stress karena hasilnya tidak normal.

Tahun pertama Steven sering banget ke dokter, sampai dia trauma. Setiap kali diajak ke dokter nangis menjerit-jerit. Sungguh anak yang susah diatur. Entah kenapa semenjak umur 7 bulan, dia tidak mau pakai sandal atau sepatu, bahkan kaos kaki pun dia tak mau.

Sebenarnya sih Steven tumbuh normal, dia termasuk anak yang lucu dan cerdas, tapi tingkah lakunya semenjak bayi membuat stress. Melihat parahnya alergi yang dideritanya, tingkahnya yang susah diam, dan kelakuannya tidak mau pakai sepatu, bicaranya yang tidak jelas (seringkali hanya mengambil suku kata terakhir misalkan pu untuk sapu dan lampu, cak nung untuk puncak gunung, maksudnya dia minta diputarin CD lagu naik-naik ke puncak gunung, dsb), saya sempat merasa takut kalau dia berkembang menjadi autis.

Mungkin karena stress, ketakutan yang berlebihan, rasa marah karena gara-gara Steven saya harus berhenti kerja, rasa jengkel karena Steven susah sekali diatur, dsb menjadikan saya mudah sekali marah. Pelampiasannya tentu saja berupa bentakan, ceweran, atau pukulan ke Steven. Misalnya dia ngompol di kasur, saya omelin, eh dia enggak nangis, belum puas rasanya, saya jewer dia, belum nangis juga, saya jewer lagi dia keras-keras sampai dia nangis. Wah pokoknya saat itu kondisi emosi saya labil banget.

Perlakuan saya yang sering memarahi Steven tidak membuat kelakuannya membaik, bahkan puncaknya saat dia di playgroup. Saat itu dia sudah punya adik, Kevin. Sangat berbeda dengan Steven, masa bayi Kevin justru gampang sekali. Kevin bayi merupakan anak yang lucu, anteng, jarang sakit, jarang nangis, mau pakai sepatu, pokoknya beda banget dengan Steven (kata Steven sih Kevin lucu kalau Steven pinter). Nah hari pertama Steven masuk playgroup saya masih bisa mengantar tapi setelah itu kami disibukkan karena papa mertua saya meninggal karena sakit. Kesedihan dan kesibukan mempersiapkan pemakaman, membuat perhatian kami ke Steven jauh berkurang. Saya tidak dapat mendampinginya di sekolah.

Pengasuh Steven melaporkan kalau Steven di sekolah suka mengganggu teman, susah diajak masuk kelas. Ketika proses pemakaman sudah selesai, saya ambil alih lagi mengantar Steven ke sekolah. Kebetulan pagi itu Steven habis mengganggu Kevin dan ditegur oleh neneknya. Mungkin kondisi hatinya jadi agak mendongkol dan hal itu dilampiaskannya dengan mengganggu teman-temannya yang secara fisik lebih kecil. Tahu-tahu dia mengejar temannya yang lebih kecil kemudian memukul atau mendorongnya. Aduh betapa malu, marah, dan stress rasanya melihat kelakuan Steven saat itu.

Semenjak peristiwa itu beberapa guru menjadi lebih ketat dalam menjaga Steven, kejadian tadi tentu saja menyebar menjadi gosip empuk para mama yang mengantar anaknya ke sekolah. Rasanya sebagai mama saya sudah gagal mendidik anak, kenapa anak saya jadi seperti itu. Tapi semakin dimarahi kelakuannya bukannya membaik, mungkin Steven merasa dongkol , sakit hati, iri, atau merasa tidak disayang. Akibatnya nakalnya semakin menjadi juga. Saat itu kami sungguh merasa bingung, kalau masih kecil saja sudah enggak bisa diatur seperti itu, gimana nantinya.

Karena dia merasa kondisi di sekolah tidak menyenangkan, akhirnya dia mogok enggak mau sekolah. Saya dan papanya tambah pusing lagi. Saya menghadap ke kepala sekolah. Dengan bijaksana Bu Chichi kepala sekolah saat itu menasehatkan sudah jangan dipaksa, coba aja ke sekolah untuk main-main dulu, biar dia adaptasi. Kalau dia lagi mood ajak aja ke sekolah meski itu bukan jadwal sekolahnya (karena masih play group masuk sekolah 3 kali dalam seminggu). Enggak usah masuk kelas dulu, main-main saja dulu.

Di depan Bu Chichi saya mengiyakan, tapi dalam hati berpikir kok enak enggak mau sekolah dibiarin ntar tambah manja, harusnya dimarahin tuh biar dia tahu kalau itu salah. Namun kami tetap mencoba nasehat Bu Chichi untuk mengajaknya adaptasi ke sekolah untuk bermain-main dulu. Tapi masa-masa itu sungguh sulit. Hari ini berhasil mengajaknya ke sekolah misalnya tapi tetap aja dia enggak bisa diatur, enggak mau masuk kelas. Aduh gemes banget rasanya, anak orang lain dengan pintarnya masuk kelas sendiri, menjawab pertanyaan, mau ke depan kelas. Sedangkan Steven, menginjakkan kaki masuk kelas aja enggak mau, di sekolah kerjanya cuman main-main. Terus buat apa sekolah kalau seperti gini terus pikir saya.

Suatu hari dia kembali mogok sekolah, tidak mau mandi. Kesabaran saya sudah habis. Ya sudah kalau Steven enggak mau sekolah biar tinggal di rumah saja sendirian. Saya ajak semua orang keluar rumah, Steven terlihat ragu tapi karena takut diantar ke sekolah, dia tetap memilih tinggal di rumah. Kami sembunyi beberapa saat terus kembali ke rumah lagi. Habis akal rasanya, taktik apa lagi yang harus kami pakai? Masa sama anak kecil umur 2,5 tahun aja kalah?

Pagi itu Steven kembali dihukum, dia dicuekin karena enggak mau sekolah. Sudah dinasehatin macam-macam, mau jadi apa nanti kalau besar, dibujuk baik-baik, eh masih enggak mempan. Ya sudah orang satu rumah diminta mencuekkan Steven, pura-pura dianggap enggak ada. Pagi itu saya dan papa Steven sedang membaca koran di ruang tamu, nenek Steven juga membaca koran di ruang tengah (mukanya tertutup oleh koran), pengasuhnya sedang memberi susu Kevin. Nah Steven sambil membawa botol susunya berusaha naik ke ranjang bayi yang saat itu diletakkan di ruang tengah. Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan dan gedebug, terdengar bunyi yang sangat keras. Steven jatuh ke lantai dengan kepala yang membentur lantai dahulu. Kami semua kaget dan shock.

Sehabis terbentur dengan keras tadi, Steven bilang dia merasa ngantuk dan masuk kamar. Dia tidur. Ketika bangun tahu-tahu dia muntah. Kami langsung kuatir dia kena gegar otak, segera kami bawa ke rumah sakit. Saat itu kami baru berpikir seandainya Tuhan kembali mau mengambil Steven karena kami tidak menyayanginya dengan sungguh-sungguh, apakah kami rela? Memang dia jatuh karena tingkahnya sendiri, tapi salah kami juga khan karena tidak menjaganya, mencuekkannya? Bagaimanapun juga Steven masih kecil, kalau dia enggak bisa diatur mungkin cara kami mendidiknya yang salah. Berbagai pikiran berkecamuk waktu kami menunggu antrian rontgen kepala untuk melihat adakah tulang kepalanya yang retak.

Untunglah Steven tidak apa-apa, tapi waktu menunggu antrian obat dia muntah lagi. Saat itu kemampuan otaknya juga berkurang, seperti orang linglung. Ketika ditanya pertanyaan-pertanyaan yang biasanya dia bisa langsung menjawab kali itu kadang dia bilang lupa. Mungkin karena otaknya baru saja terkena guncangan keras.

Kejadian tadi membuat kami berpikir ulang tentang cara didik kami. Setiap kali ke toko buku kami mencari buku yang dapat membantu kami dalam mengatasi problem anak yang susah diatur ini. Akhirnya buku karangan Dra V. Dwiyani yang paling dapat membuka hati dan pikiran kami. Buku tersebut Dari Anak Tentang Kita, kumpulan kisah-kisah nyata yang ditulis dari sisi pikiran anak. Judul bukunya "Ibu Dengarkan Aku" begitu menyentuh hati saya kala itu . Banyak juga kisah-kisah nyata di sana yang membuat kita terhenyak, betapa seringnya kita entah disengaja maupun tidak menyakiti hati anak-anak. Kita berpikir kalau nakal harus dihukum tapi apa benar dengan dihukum kelakuan anak kita membaik? Tak jarang kita melampiaskan kekesalan dan kemarahan kita pada anak, bahkan itu terjadi berkesinambungan sampai anak kita tidak lagi merasa dicintai. Bagi Anda yang memiliki problem serupa, coba cari buku tersebut, harganya murah kok, tuh lagi ada diskon tinggal Rp 14.280 bukunya tipis, kumpulan kisah nyata, jadinya lebih mengena. Beberapa ibu yang saya pinjami buku tersebut menangis dan mulai memperbaiki diri, dan seiring dengan itu kelakuan anaknya pun ikut membaik.

Kembali ke Steven, memang perubahan tidak terjadi secara drastis, tapi cara pikir kami dan kesadaran kami bahwa butuh cinta kasih untuk mengatasi anak yang susah diatur ini, membuat perilakunya membaik. Saya kembali mengantarnya ke sekolah, dan saya berusaha keras membuat dia tertarik masuk kelas tapi tidak dengan cara paksaan. Saya berusaha keras menjadi lebih sabar. Pertama saya biarkan dia bermain di area sekolah, kemudian ketika teman-temannya sudah masuk kelas, saya coba membuat dia tertarik mengintip melalui pintu kaca. Ya pertama hanya sekedar mengintip, terus berkembang menjadi duduk di luar pintu. Prosesnya cukup lama.

Para guru juga kooperatif. Steven dibiarkan di luar kelas tapi mereka tetap menawari Steven untuk ikut terlibat pada kegiatan belajar tersebut. Kalau Steven enggak mau, mereka tidak memaksa. Suatu hari Steven tertarik dengan materi yang diajarkan di kelas kemudian membuka pintu dan ikut masuk. Pada awalnya sih dia cuman masuk sebentar terus keluar lagi, tapi lama-kelamaan dia mulai mau masuk kelas tapi minta ditemani. Sedikit demi sedikit saya mulai menjauh, dan para guru mengambil alih peran saya. Mula-mula kalau ditinggal dia masih menangis dan mencari saya, tapi para guru berusaha keras mengalihkan perhatiannya. Untung akhirnya meski melalui proses yang panjang, kami berhasil mengatasi masa-masa sulit itu.

Saat ini Steven sudah kelas TK B dan para guru bilang tidak ada masalah dengan dia., Steven bagus kata mereka. Malahan di playgroup B dia berhasil mendapat piala sebagai The King saat wisuda dan di TK A dia juara Mandiri 1. Puji Tuhan dari anak yang rewelnya minta ampun dan sangat susah diatur akhirnya dapat berubah. Berilah anak Anda cinta kasih, cobalah lebih mengerti mereka. Maafkan kelakuan mama dulu, ya Steven...

Thanks Dah Dateng ke carantrik.com

Admin Anda baru saja membaca posting dengan judul : Cerita Tentang Anak Yang Susah Diatur . Anda juga dapat membaca ARTIKEL MENARIK lainnya di bawah ini.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment